Media Jabar.Net.Bandubg – Sampah menjadi permasalahan yang paling utama di wilayah Sektor 22. Masalah ini memiliki dimensi bom waktu, kita ingat bersama tepatnya pada tanggal 22 Februari 2005 Kota Bandung menjadi Lautan Sampah, ledakan TPA Leuwigajah tersebut mengakibatkan 147 orang meninggal dunia.
Kurang lebih 1.500 ton/hari jumlah timbunan sampah atau setara seluas lapangan bola.
Adapun sumber sampah tersebut berasal dari sampah rumah tinggal dan sampah non rumah tinggal, selain itu mekanisme penanganan sampah belum tertata dengan baik, sarana dan prasarana yang belum memadai serta budaya masyarakat yang belum memahami.

Upaya yang sudah dilakukan secara kolaborasi antara sektor 22 dan DLHK Kota Bandung seperti mengusung program Zero Waste Life Style atau Kang Pisman dalam bersosialisasi kepada warga khususnya Kota Bandung.

Selain itu ada upaya kolaborasi yang terlihat lebih nyata yaitu dengan membuat jaring sampah. Sejak tahun 2018 sd saat ini sudah 55 unit jaring sampah terbangun di wilayah Sektor 22. Hal ini terbukti efektif dapat menampung kurang 400 – 500 kg sampah setiap harinya. Sektor 22 dan DLHK Kota Bandung menyiagakan petugas untuk mengawasi keberadaan jaring sampah tersebut.
Selain mengurangi sampah di sungai, jaring sampah pun untuk mendeteksi sumber sampah.

Kendala yang dihadapi adalah debit atau intensitas air yang tinggi di musim penghujan, sehingga berpotensi merusak jaring sampah tersebut. Targetnya bukan jumlah jaring sampah yang terpasang namun tapi edukasi kepada masyarakat agar pemahaman untuk ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi budaya di kehidupan sehari-hari. (Asep/jpch).

Check Also

Jajaran Pengurus serta Anggota DPD FPRN Provinsi Jabar Minta Aparat Keposisian Segera Tangkap dan Tindak Pelaku Penembakan Wartawan

Asep Mulyana Sekertaris FPRN Media Jabar.Net. BANDUNG – Pimred Media Online LasserNews, Ma…