Wujud Kepedulian GMBI , Abah Manshur Gelar Aksi Sosial di Sungai Citepus
Media Jabar. Net. BANDUNG — Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) Distrik Kota Bandung menggelar kegiatan sosial bertajuk GMBI Peduli di kawasan Sungai Citepus, Kota Bandung. Kegiatan tersebut melibatkan puluhan peserta dan menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat di sekitar kawasan sungai.
Kegiatan berlangsung dengan melibatkan anggota GMBI yang turun langsung ke lapangan. Kehadiran mereka mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Warga mengaku merasa lega dan senang karena adanya perhatian terhadap lingkungan dan kondisi di sekitar tempat tinggal mereka.
Bagi masyarakat, kegiatan sosial semacam ini memiliki arti tersendiri. Perhatian yang diberikan secara langsung membuat warga merasa bahwa kondisi lingkungan mereka tidak luput dari perhatian. Kehadiran peserta juga menjadi dorongan bagi masyarakat untuk melihat pentingnya menjaga lingkungan secara bersama-sama.
Turut terlibat dalam kegiatan tersebut perwakilan pemerintah kewilayahan. Dari Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astana Anyar, hadir Ibu Nia selaku Kasi Ekbang. Sementara dari Kelurahan Situ Saeur, Kecamatan Bojongloa Kidul, hadir Lurah Bapak Odon Sip.
Kehadiran unsur pemerintah kewilayahan menjadi bagian dari perhatian terhadap kegiatan yang berlangsung di kawasan Sungai Citepus. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah dalam melihat persoalan lingkungan secara lebih dekat.
Ketua LSM GMBI Distrik Kota Bandung, Moch. Mashur atau yang akrab disapa Abah Mashur, mengatakan keberadaan organisasi di tengah masyarakat perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Menurut Abah Mashur, organisasi kemasyarakatan tidak cukup hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan penyampaian aspirasi. Kehadiran tersebut juga perlu diwujudkan melalui kegiatan yang dapat memberikan manfaat secara langsung.
“Kami ingin GMBI hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan penyampaian aspirasi, tetapi juga ketika masyarakat dan lingkungan membutuhkan kepedulian serta tindakan nyata,” ujar Abah Mashur.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran mengenai arah kegiatan GMBI Peduli. Bagi GMBI, kepedulian sosial tidak hanya berkaitan dengan menyampaikan persoalan kepada pemerintah, tetapi juga bagaimana organisasi dapat mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan yang ditemui di lapangan.
Kawasan sungai menjadi salah satu ruang yang penting bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap lingkungan sungai tidak dapat dilepaskan dari kepedulian terhadap masyarakat yang berada di sekitarnya.
Abah Mashur menilai persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan pelayanan, sedangkan masyarakat memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Organisasi kemasyarakatan juga dapat mengambil bagian melalui kegiatan sosial dan kepedulian langsung di lapangan.
“Lingkungan ini milik kita bersama. Jangan hanya menunggu pihak lain bergerak. Kalau kita bisa berbuat sesuatu yang baik, kita harus mulai dari diri kita sendiri,” katanya.
Kegiatan GMBI Peduli juga memperlihatkan bahwa perhatian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui kehadiran secara langsung. Tidak sekadar berbicara mengenai persoalan lingkungan, peserta kegiatan hadir dan mengambil bagian dalam aktivitas sosial di kawasan Sungai Citepus.
Respons warga menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan tersebut. Sejumlah masyarakat menyampaikan rasa lega dan senang karena merasa mendapat perhatian. Bagi mereka, kehadiran pihak yang bersedia turun langsung ke lingkungan menjadi bentuk kepedulian yang memiliki nilai tersendiri.
Apresiasi juga disampaikan dari unsur pemerintah kewilayahan yang hadir. Mereka menyampaikan rasa syukur karena kegiatan tersebut dinilai turut membantu dan memberikan perhatian kepada masyarakat.
Kehadiran pemerintah kewilayahan dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya komunikasi antara berbagai unsur di tingkat lokal. Persoalan yang berada di lingkungan masyarakat dapat lebih mudah dipahami ketika dilihat secara langsung dan dibicarakan bersama.
Bagi GMBI, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari upaya membangun kedekatan dengan masyarakat. Organisasi ingin keberadaannya dapat dirasakan melalui kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Abah Mashur menegaskan bahwa kepedulian harus dibangun dari kesadaran untuk hadir dan mengambil tindakan. Menunggu persoalan menjadi besar sebelum bergerak, kata dia, bukan merupakan pilihan yang tepat ketika masyarakat membutuhkan perhatian.
“Yang paling penting adalah bagaimana keberadaan kita bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ketika masyarakat membutuhkan perhatian, kita harus berusaha hadir dan melakukan apa yang bisa kita lakukan,” ujar Abah Mashur.
Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan GMBI Peduli di Sungai Citepus. Puluhan peserta yang terlibat menjadi bagian dari kegiatan yang diarahkan untuk memberikan perhatian terhadap lingkungan sekaligus masyarakat.
Kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan bukan hanya persoalan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan memiliki peran yang tidak kalah penting. Ketika kepedulian dibangun secara bersama, upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, keberadaan organisasi kemasyarakatan dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan berbagai pihak yang memiliki kewenangan. Organisasi dapat menyerap aspirasi, melihat persoalan secara langsung, sekaligus mengambil bagian dalam kegiatan yang bersifat sosial.
Hal inilah yang ingin terus didorong melalui kegiatan GMBI Peduli. Kehadiran GMBI di tengah masyarakat diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan menjadi bagian dari kepedulian yang terus tumbuh.
Kawasan Sungai Citepus dipilih sebagai lokasi kegiatan juga menjadi simbol bahwa perhatian terhadap lingkungan perlu dilakukan dari ruang-ruang yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Sungai bukan hanya bagian dari bentang alam perkotaan, tetapi juga memiliki hubungan dengan aktivitas warga di sekitarnya.
Karena itu, menjaga lingkungan sungai membutuhkan kesadaran bersama. Masyarakat perlu memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan tempat mereka tinggal, sementara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dapat memberikan dukungan melalui peran masing-masing.
Kegiatan GMBI Peduli di Sungai Citepus pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai kegiatan sosial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk pesan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dapat dimulai dari hal sederhana, yakni hadir, melihat kondisi secara langsung, dan bersedia mengambil tindakan.
Respons positif warga dan apresiasi dari unsur pemerintah kewilayahan menjadi bagian dari catatan kegiatan tersebut. Bagi masyarakat, perhatian yang diberikan menjadi sesuatu yang membuat mereka merasa diperhatikan. Bagi GMBI, respons tersebut menjadi dorongan untuk terus menjalankan kegiatan yang memberikan manfaat.
Abah Mashur berharap semangat kepedulian tersebut dapat terus dijaga dan menjadi bagian dari karakter organisasi.
“GMBI harus tetap berada di tengah masyarakat. Kita mendengar apa yang menjadi persoalan mereka, melihat kondisinya, dan sebisa mungkin memberikan manfaat. Karena organisasi ini lahir dari masyarakat dan harus kembali memberikan manfaat kepada masyarakat,” tutur Abah Mashur.
Melalui GMBI Peduli, LSM GMBI Distrik Kota Bandung menunjukkan komitmennya untuk mengambil bagian dalam persoalan sosial dan lingkungan. Kegiatan di Sungai Citepus menjadi salah satu wujud kehadiran tersebut.
Pada akhirnya, kepedulian tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kehadiran, perhatian, dan kemauan untuk turun langsung dapat menjadi awal dari perubahan. Dari Sungai Citepus, GMBI membawa pesan bahwa lingkungan dan masyarakat membutuhkan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Martika Edison/ Tim MEDIA JABAR.NET Jurnalis Media Indonesia Kota Bandung.
