JACHJA TD ” Jangan Jadi Koruptor Recehan

Bagikan berita:

Media Jabar.Net.Bandung -Beberapa hari yang lalu saya menyengajakan diri datang ke Pusat Edukasi Antikorupsi (gedung lama KPK) atas undangan teman – teman aktifis antikorupsi menyoal mulai dilidiknya dugaan tindakan korupsi di KBB. Saya cukup terkejut mendengar paparan temen – temen yang notabene orang Jakarta. Seolah – olah informasi dan data yang mereka miliki lebih rinci, seperti kasus dana covid yang tengah berproses saat ini, pembelian tanah yang dijadikan objek wisata, TKK, promosi jabatan yang diputuskan keluarga, dan tentu saja proyek – proyeknya.

Obrolan yang menariknya saat membahas kasus dana KONI, mereka yakin, Polres Cibabat akan menyelesaikan kasus tsb, karena melihat figur Ketua KONInya adalah anak Bupati dan sebagai Anggota DPR RI. Pihak Polres tentu saja serius menangani kasus tsb yang sudah menjadi isu nasional. Kabarnya semua Petinggi Partai NasDem sudah mengetahuinya.
Ketika giliran saya berbicara, tidak membahas masalah di atas. Saya percaya KPK akan cepat menyelesaikan kasus yang sedang ditangani. Saya lebih menekankan aspek hukuman bagi pelaku korupsi/koruptor. Sebagai aktifis antikorupsi, kita harus dapat mendesak Pemerintah dan MK meyudifisial-reviewkan undang – undang KPK, khusus fasal hukuman terdakwa koruptor, yaitu *memiskinkan semua hartanya beserta sanksi sosialnya* bilamana fasal tsb sah diundangkan, tindakan korupsi bisa dieliminir.

Tidaklah mengherankan, maraknya tindakan korupsi si Indonesia karena cambuk undang – undangnya, secara ekonomis masih menguntungkan koruptor. Contoh, seorang kepala daerah melakukan tindakan korupsi Rp 100 miliar dan dihukum 4 tahun serta harus mengembalikan uang negara Rp 50 miliar. Kalau dikalkulasikan, si koruptor setiap bulannya mempunyai *”uang kehormatan semasa jadi pejabat”* sebesar Rp 50.000.000.000 : 36 bulan (setelah dipotong remisi dll) = Rp 1.388 juta lebih. Enak kan!
Nah kalau pejabat/asn yang cuma, misalnya korupsi Rp 10 miliar, apa enaknya? Sanksinya, pemecatan dan hukuman. Saran saya, jangan jadi koruptor recehan. Bekerjalah minimal demi nama baik pribadi dan sanak famili. Toh kita tidak akan hidup selamanya. Ingat, nafkah yang kita berikan kepada anak – isteri, kelak mereka akan menuntut dan mendepak kita. Penulis : JACHJA TD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *