Angga Paska Pandemi Beralih dari Bengkel Menjadi Petani

Bagikan berita:

Media Jabar.Net. – Sukabumi, Di salah satu perkampungan belakang Perumahan Taman Asri , Kota Sukabumi, tepatnya di Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi tampak area perkebunan. Area perkebunan tersebut terlihat dipenuhi tanaman sayur mayur. Beberapa orang terlihat sedang memanen buah yang akrab dijadikan lalapan tersebut, seperti timun, tomat dan cabe rawit. Satu di antaranya yakni Angga Irawan (34) yang beralih memilih jadi petani ketimbang kerja di bengkel mobil, Selasa (10/05/22).

Di sela aktivitasnya memanen, pria yang akrab disapa Angga tersebut sudi berbagi kisah hidupnya selama jadi petani. Dia mengatakan, menekuni pekerjaan jadi petani sejak tujuh bulan yang lalu. Sebelumnya, ia mengaku kerja di bengkel mobil. Namun, karena kondisi pandemi yang melanda selama lebih dari dua tahun itu Angga memutuskan untuk jadi petani.

“Sebelumnya saya kerja di bengkel mobil. Setiap hari kerja dari pagi sampai sore, lama kelamaan kok jadi jenuh dengan rutinitas tersebut, tapi faktor utamanya sih karena kondisi bengkel yang terbilang sepi dan adanya pengurangan karyawan. Karena itulah saya memutuskan untuk jadi petani,” ujar Angga.

Menurutnya, jadi petani itu lebih santai. Bisa tidur sewaktu-waktu, serta bisa main ke mana saja tak terkekang dengan kerjaan. Yang terpenting kata dia, di sawah ada pekerja yang merawat tanamannya. Jadi bisa dianggap seperti seperti pengusaha.

“Enaknya jadi petani itu lebih santai. Ingin tidur bisa sewaktu-waktu, mau main ya bisa tidak ada yang memarahi. Yang penting kan ada pekerja di kebun yang merawat tanaman. Pokoknya lebih santailah, tapi hasilnya gak kalah,” paparnya.

Masih kata Angga, ia belajar bercocok tanam seperti sekarang adalah hasil otodidak. “Otodidak saja saya belajar semuanya, tidak hanya sekarang saya sebagai petani tapi pas bekerja di bengkel pun saya belajar otodidak tidak ada pelatihan khusus,” katanya.

Sistem pemasaran yang dipakai Angga adalah personal selling, dimana produknya dipasarkan secara langsung bertatap muka dengan calon pembeli atau manajemen pemasaran biasanya akan menentukan tempat-tempat tujuan dan pasar yang strategis.

“Kalau saya sih pemasarannya langsung kita jual ke pasar tanpa lewat perantara atau tengkulak,” jelasnya.

Berbicara soal modal, ia mengeluarkan modal awal sebesar Rp4 juta untuk membeli bahan kebutuhan pertaniannya, dan sekira kurang lebih tujuh bulan berjalan, alhasil omset yang didapatkan adalah Rp7-8 juta.

“Alhamdulillah, walaupun modal tidak besar dan dengan modal tekad yang kuat, sekarang saya mendapatkan omset Rp7-8 juta,” tambahnya.

Melihat perkembangan tersebut, ia mengajak para generasi muda untuk terjun di dunia pertanian. Sebab, sebenarnya jadi petani itu mirip pengusaha, tidak ada yang memerintah karena milik sendiri. Lebih santai dan hasilnya pun menggiurkan, dibanding kerja ikut orang lain.

“Harapannya semoga generasi muda tidak memandang sebelah mata dunia pertanian. Sebab sebenarnya, hasil di dunia pertanian itu lebih menjanjikan,” pungkasnya. (Rwd).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *