Prioritas

Silaturahmi MD KAHMI se-Jawa Barat: Merajut Ukhuwah, Membangun Sinergi

Bagikan berita:

Media Jabar. Net. Bandung – Organisasi yang besar tidak semata-mata dibangun oleh mekanisme pemilihan kepemimpinan, melainkan oleh tradisi dialog, budaya silaturahmi, dan kemampuan merawat kepercayaan (trust) di antara para anggotanya. Dalam perspektif modal sosial Robert D. Putnam, jaringan keterikatan sosial, kepercayaan, dan norma-norma kolektif merupakan fondasi utama lahirnya organisasi yang adaptif dan berkelanjutan. Karena itu, menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) VII KAHMI Jawa Barat, penyelenggaraan “Silaturahmi dan Keguyuban Majelis Daerah (MD) KAHMI se-Jawa Barat”, di Hotel Bayu Alam, Cipanas, Garut, pada 24 Juli 2026, memiliki makna yang jauh melampaui agenda seremonial. Acara silaturahmi ini merupakan ruang rekonsolidasi moral, intelektual, dan organisatoris bagi keluarga besar KAHMI se-Jawa Barat.

Mengusung tema “Merajut Ukhuwah dan Menguatkan Sinergi”, pertemuan yang diilaksanakan oleh MD KAHMI Kabupaten Garut tersebut dihadiri oleh 17 Majelis Daerah kabupaten/kota se-Jawa Barat. Kehadiran para alumni HMI dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa kekuatan organisasi tidak lahir dari keseragaman pandangan, melainkan dari kemampuan mengelola keberagaman gagasan menjadi energi kolektif. Melalui ruang dialog yang sehat dan saling membahagiakan akan melahirkan tindakan komunikatif yang berorientasi pada tercapainya kesepahaman, bukan sekadar kemenangan argumentasi. Dalam konteks inilah silaturahmi menjadi arena bertemunya pengalaman, gagasan, dan harapan mengenai masa depan MW KAHMI Jawa Barat.

Forum refleksi yang dimoderatori oleh David dari MD KAHMI Ciamis menghadirkan pandangan dari sejumlah bakal calon Presidium MW KAHMI Jawa Barat yang hadir, yakni Prof. Dr. Ahmad Sarbini, M.Ag (MD Kabupaten Bandung), Ahmad Hidayat (MD Kota Bandung sekaligus sekretaris Golkar Jawa barat), Agus Asri (MD Majalengka), Huliman Abdul Ghofur (MD Sumedang), Dodi (MD Tasikmalaya), Suprih Rozikin (MD Garut), dan Najmudin (MD Bekasi). Beragam perspektif yang disampaikan memperlihatkan bahwa kompetisi kepemimpinan dalam KAHMI seyogianya dipahami sebagai kompetisi gagasan, etika, dan pengabdian, bukan sekadar kontestasi personal. Kepemimpinan yang dibutuhkan KAHMI ke depan adalah kepemimpinan transformatif, yaitu kepemimpinan yang mampu menginspirasi, membangun visi bersama, memberdayakan potensi kolektif, serta menggerakkan perubahan organisasi secara berkelanjutan.

Lebih dari itu, silaturahmi ini menghasilkan berbagai gagasan konstruktif mengenai penguatan tata kelola organisasi, revitalisasi peran Majelis Wilayah dan Majelis Daerah, serta pentingnya membangun hubungan yang lebih sinergis antara MW dengan seluruh MD di Jawa Barat. Organisasi alumni tidak boleh berhenti sebagai ruang nostalgia, tetapi harus berkembang menjadi komunitas epistemik yang memproduksi gagasan, menjadi mitra kritis pemerintah, sekaligus memberikan solusi atas persoalan-persoalan keumatan, kebangsaan, dan pembangunan daerah. Dengan demikian, KAHMI tidak hanya menjaga warisan intelektual HMI, tetapi juga menghadirkan relevansi sosialnya di tengah dinamika masyarakat kontemporer.

Sebagai inisiator kegiatan, Asep Syahid (MD Subang), Muslim Hafidz (MD Karawang), dan Ricki Priyatno (MD Garut) menegaskan bahwa silaturahmi ini merupakan ikhtiar kolektif untuk memperkuat ukhuwah serta membangun sinergi yang berkelanjutan antara MW dengan MD maupun antarsesama MD. Penegasan tersebut mengandung pesan filosofis bahwa organisasi yang kokoh memerlukan kesediaan seluruh elemen untuk saling mendengar, saling menghargai, dan saling menguatkan dalam semangat kolegialitas.

Pada akhirnya, Muswil VII KAHMI Jawa Barat yang akan digelar nanti bukan sekadar momentum memilih presidium wilayah, tetapi merupakan momentum merumuskan arah baru organisasi. Kepemimpinan dapat berganti, tetapi nilai-nilai ukhuwah, integritas, intelektualitas, dan pengabdian harus tetap menjadi poros utama perjalanan KAHMI. Dari Cipanas, Garut, lahir sebuah pesan bahwa masa depan organisasi akan ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen KAHMI untuk menjadikan silaturahmi sebagai energi sosial, sinergi sebagai strategi kolektif, dan persatuan sebagai fondasi transformasi. Sebab hanya organisasi yang mampu merawat persaudaraan yang dapat mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama, bahkan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman dan berkontribusi bagi terwujudnya Jawa Barat yang maju, berkeadaban, dan tercerahkan.

Kontributor: Dudy Imanuddin Effendi, Sekum MD KAHMi Kabupaten Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *