Prioritas

Kampung Cisitu Sukabumi Bidik Pasar Internasional kerajinan Ayaman bambu

Bagikan berita:

Media Jabar.Net. Sukabumi –

– Kampung Cisitu, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi sejak dulu memang sudah terkenal sebagai tempatnya para perajin bambu. Di tempat ini para pria nya sudah tirun temurun sejak dulu di kenal pengrajin ayaman dari bambu.

Namun kini seiring perkembangan zaman para ibu – ibu nya pun tak mau kalah, sekarang mulai belajar mengayam dari bahan bambu tersebut, mereka dengan antusias mulai belajar dari kaum pria hal tersebut agar anyaman bambu tetap lestari.

Mereka termotivasi untuk mencari penghasilan tambahan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar. Setelah sempat ikut pelatihan menganyam sebulan ke belakang, para ibu itu pun tak berpuas hati dengan hanya sekadar membuat berbagai jenis barang dari anyaman bambu saja. Mereka pun ingin tahu persis bagaimana menanam bambu sejak dari bibitnya agar hafal betul kualitasnya. Yang tak kalah hebat, bibit-bibit bambu tak dibungkus polybag berbahan dasar plastik. Agar lebih ramah lingkungan, polybag diganti anyaman keranjang bambu.

Salim Ujung Samid (52) yang akrab di sapa Abah Salim. Salah seorang pengrajin yang masih setia membuat kerajinan dari bahan bambu , yang mau berbagi memberikan ilmu nya kepada ibu – ibu agar kerajinan bambu dari kampung Cisitu tetap lestari..

Menurut bah Salim ,” sejak kecil kami kalau pulang dari sawah suka bikin ayaman dari bambu untuk memenuhi kebutuhan keperl

“Jadi dari dulu itu, biasanya kalau setelah pulang keperluan pealatan sendiri seperti tampan (nyiru), besek ,hihid, , keranjang, Dll ini di lakukan sejak saya kecil, dan kini saya ajarkan pada ibu – ibu agar bisa berdaya serta tetap lestari ,’ Ujar nya

Lanjut salaim ,” kenapa kepada ibu – ibu tidak kepada kaum muda, terus terang anak muda sekarang lebih tertarik dengan pekerjaan nya ke kota atau jadi buruh pabrik , karena menganyam di butuhkan ketekunan dan kesabaran akhirnya ditularkan ke ibu – ibu ,” Kata salim. Minggu (14/8/2022).

Abah Salim mengaku keterampilan menanam dan menganyam bambu ia dapat dari orang tua dan kakeknya sejak ia masih kecil. Namun menginjak remaja, ia pun memberanikan diri untuk lepas dari orang tua dan mencoba membuat hasil karya yang identik dengan tangannya sendiri. “Umur 14 tahun saya mulai coba lepas dari orang tua, menganyam, terus hasilnya dijual ke pasar. Setelah banyak dikenal, sering juga dijual di sini, pelanggannya datang sendiri ke kampung ini. Kalau ada permintaan membuat yang lain, selama bisa dibuat, ya saya buatkan. Hasilnya cukup menjanjikan. Saya juga bisa menghidupi istri dan anak-anak,” imbuhnya.

Kegiatan pemberdayaan ini juga berada di bawah bimbingan oleh Asosiasi Dunia Bambu Sukabumi (DBS). Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa anyaman bambu dari Kampung Cisitu seringkali dikumpulkan dan dipromosikan oleh DBS. Ketua Umum Asosiasi DBS, Agus Ramdhan mengaku sudah cukup lama bekerja sama dengan beberapa perajin bambu lokal, salah satunya di Kampung Cisitu dalam pembuatan barang-barang berbahan dasar bambu. Bahkan ia ingin agar dunia industri dan perdagangan lebih banyak lagi menggunakan bambu.

“Ini sebagai upaya kita dalam melakukan pemberdayaan perempuan. Ternyata hasilnya tak kalah bagus dengan laki-laki, apalagi perempuan itu kan biasanya lebih tekun dalam mengerjakan sesuatu. Apalagi zaman sekarang orang banyak kembali ke bahan-bahan ramah lingkungan, zero waste. Kenapa tidak di minimarket atau swalayan yang masih menggunakan keresek plastik diganti dengan keranjang bambu. Yang uniknya dari bambu, selain bisa mudah didapat dari mana-mana, banyak juga kegunaannya,” kata Agus.

Karena itu, Agus cukup sering berkeliling mencari perajin bambu lokal agar manakala ia mendapat banyak pesanan barang-barang berbahan dasar bambu, ia tak kesulitan mencari. “Kalau untuk pasar lokal hingga nasional, alhamdulillah cukup besar minatnya. Apalagi kita sering diundang ke berbagai acara untuk mempromosikan berbagai barang berbahan dasar bambu. Jadi sudah cukup dikenal. Mungkin yang ingin kita bidik itu pasar internasional. Apalagi kan sekarang sedang gencar kampanye zero waste itu,” pungkas Agus. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *