Ekonomi Kota Bandung Tumbuh 5,80 Persen pada Triwulan II 2026, Pemkot Perkuat Investasi dan Produktivitas
Media Jabar. Net. Diskominfo Kota Bandung – Perekonomian Kota Bandung tetap tumbuh positif pada Triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, ekonomi Kota Bandung tumbuh 5,80 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan II 2026, meningkat dari 5,76 persen pada Triwulan I 2026.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Kota Bandung tetap bergerak positif. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pada Triwulan II antara lain ditopang oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 31,90 persen, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 8,95 persen, serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 3,65 persen.
Kepala Bapperida Kota Bandung Anton Sunarwibowo mengatakan, perkembangan indikator ekonomi tersebut menjadi salah satu dasar bagi Pemerintah Kota Bandung untuk mengevaluasi kondisi perekonomian sekaligus mempertajam arah pembangunan daerah.
“Angka pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas ekonomi Kota Bandung tetap bergerak positif. Bagi pemerintah daerah, yang penting bukan hanya melihat angka pertumbuhan, tetapi memahami faktor yang mendorongnya dan melihat ruang penguatan agar pertumbuhan ekonomi semakin produktif dan berkelanjutan,” ujar Anton.
Investasi dan Produktivitas Menjadi Perhatian
Menurut Anton, data BPS menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi Kota Bandung. Pada saat yang sama, penguatan investasi dan produktivitas menjadi penting untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, arah pembangunan ekonomi Kota Bandung ke depan diarahkan pada penguatan investasi, produktivitas dunia usaha, daya saing perdagangan dan jasa, serta keterkaitan antarsektor ekonomi.
“Kita perlu memastikan pertumbuhan ekonomi memiliki fondasi yang semakin kuat. Karena itu, investasi, produktivitas dunia usaha, daya saing perdagangan dan jasa, serta sektor-sektor yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan,” kata Anton.
Data PDRB sendiri merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi suatu wilayah sekaligus menjadi bahan dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
Menjaga Pertumbuhan dan Stabilitas Harga
Selain pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan data BPS Kota Bandung, inflasi Kota Bandung pada Juli 2026 tercatat 2,79 persen yoy. Pada periode yang sama, Kota Bandung mengalami deflasi 0,06 persen secara month-to-month (mtm), sedangkan inflasi year-to-date tercatat 1,53 persen.
Anton mengatakan perkembangan tersebut menjadi bagian dari indikator yang terus diperhatikan dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga perlu dilihat secara bersama. Karena itu, berbagai indikator ekonomi terus kami gunakan untuk membaca kondisi daerah dan menjadi bahan dalam menentukan prioritas pembangunan,” ujarnya.
Pariwisata Tetap Menjadi Bagian Penting Ekonomi Bandung
Aktivitas pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif dan memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor ekonomi Kota Bandung.
Berdasarkan data BPS, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Kota Bandung mencapai 2,03 juta perjalanan pada Juni 2026. Pada periode yang sama, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan nonbintang tercatat 54,58 persen.
Aktivitas tersebut memiliki keterkaitan dengan sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, serta ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi perkotaan.
Karena itu, pengembangan pariwisata perlu terus diarahkan tidak hanya pada peningkatan kunjungan, tetapi juga pada penguatan keterkaitan ekonomi sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Tantangan yang Perlu Diperkuat
Di tengah pertumbuhan yang tetap positif, Bapperida juga mencermati sejumlah indikator yang masih menjadi tantangan. Data BPS menunjukkan net ekspor masih mengalami kontraksi, sementara perubahan inventori mengalami fluktuasi.
Menurut Anton, kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi pembangunan agar kebijakan ekonomi tidak hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi Kota Bandung.
“Data ini juga menunjukkan masih ada ruang yang perlu diperkuat. Karena itu, angka pertumbuhan 5,80 persen tidak kami lihat sebagai titik akhir, tetapi sebagai bagian dari evaluasi untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki dan diperkuat ke depan,” ujar Anton.
Ia menambahkan, perencanaan pembangunan Kota Bandung akan terus diarahkan agar semakin berbasis data, terukur, dan responsif terhadap dinamika ekonomi.
“Setiap indikator memberikan informasi mengenai kondisi ekonomi yang perlu kita respons. Tugas pemerintah adalah memastikan perencanaan dan kebijakan memiliki dasar yang jelas serta dapat dievaluasi dampaknya,” kata Anton.
Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Pemerintah Kota Bandung akan terus memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui peningkatan investasi dan produktivitas, penguatan daya saing perdagangan dan jasa, serta menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (red)**
Sumber : Diskominfo Kota Bandung
