Gerak Menuju Zero New Stunting, Pemkot Bandung Benahi Sanitasi, Lingkungan, dan Gizi
MediaJabar.Net – Kota Bandung – Pemerintah Kota Bandung resmi meluncurkan program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting di Yess Coffee, Rabu (15/7/2026). Program ini menjadi langkah baru dalam mempercepat penurunan angka stunting dengan pendekatan komprehensif lintas sektor.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memimpin langsung peluncuran bersama Ketua TP Posyandu Kota Bandung, Aryatri Benarto Farhan.

Farhan menegaskan stunting bukan lagi sekadar persoalan kurang gizi. Masalah ini bersifat sistemik dan dipengaruhi sanitasi, kualitas lingkungan, hingga pola hidup masyarakat.
“Stunting bukan hanya masalah ASI atau pemberian makanan tambahan. Ini persoalan yang sangat sistemik. Kalau kita ingin menurunkan angka stunting, maka yang harus kita benahi bukan hanya gizinya, tetapi juga lingkungan, sanitasi, kualitas air, dan seluruh faktor yang memengaruhinya,” ujar Farhan.

Data Jadi Alarm
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kota Bandung masih 22,8 persen. Angka itu lebih tinggi dari target nasional 16 persen.
“Kalau kita menyangkal bahwa kita sedang bermasalah, maka masalah itu akan semakin jauh dari solusi. Kita harus berani mengakui kondisi ini agar bisa mencari jalan keluarnya bersama,” katanya.

Farhan juga meluruskan, persoalan stunting di Bandung bukan karena kurang pasokan pangan. Sebagai kota jasa, Bandung mendapat suplai bahan pangan dari 16 provinsi.
“Jadi jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata gizi. Ada faktor-faktor lain yang harus kita selesaikan bersama,” ujarnya.
Beberapa faktor yang disorot: kualitas udara, sanitasi, dan air. Data menunjukkan sekitar 27 persen rumah di Bandung belum punya septic tank layak sehingga masih berpotensi BAB sembarangan.
Strategi: Data, Dapur Dahshat, dan Pos yandu
Untuk mengejar target Zero New Stunting, Farhan menginstruksikan:

- OPD, Camat, Lurah Lakukan pemetaan masalah per wilayah. Tiap daerah punya tantangan berbeda, ada banjir, sanitasi, atau kualitas air.
- DPPKB Optimalkan Dapur Dahsyat di tiap kelurahan untuk olah makanan bergizi bagi ibu hamil, menyusui, dan balita. Makanan MBG juga perlu diolah ulang agar gizinya pas.
- DSDABM Petakan kualitas air sungai, termasuk uji bakteri http://E.coli di Sungai Cikapundung.
“Zero New Stunting bukan keajaiban, tetapi sebuah proses. Setiap Senin ketiga setiap bulan, saya minta laporan perkembangan,” tegas Farhan.
Ketua TP Posyandu Aryatri Benarto Farhan menambahkan, pencegahan harus dimulai dari remaja putri. Stunting berdampak ke fisik, otak, belajar, hingga produktivitas saat dewasa.
Saat ini ada 2.004 Posyandu di Bandung. 2.003 di antaranya aktif dengan 14.797 kader. Posyandu kini bertransformasi jadi Posyandu 6 Bidang SPM sesuai Permendagri No 13/2024.
“Melalui kolaborasi kader Posyandu, nakes, PKK, Karang Taruna, dan kewilayahan, kita optimistis melahirkan generasi Bandung yang sehat, cerdas, tangguh,” kata Aryatri.
Kepala Dinkes Kota Bandung, Sony Adam, menyebut intervensi dilakukan by name by address hingga kelurahan. Data balita dan ibu hamil berisiko akan dibahas tiap bulan. Jika tidak ada perbaikan, kasus akan dibawa ke lokakarya mini kecamatan.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis Kota Bandung mampu mewujudkan Zero New Stunting,” ujar Sony. (Red) **
