Prioritas

Sukamiskin Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah, Tuntaskan 70 Persen Timbulan di Tingkat Kelurahan

Bagikan berita:

Media Jabar. Net. Kota Bandung – Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan.

Berbagai metode telah berjalan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pengolahan sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.

Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail mengatakan, pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, serta berbagai unsur lembaga kemasyarakatan.

Salah satu pengolahan yang sudah berjalan adalah budidaya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, pengolahan tersebut memiliki kapasitas sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari, meski ke depan ditargetkan dapat mencapai satu ton per hari.

“Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi karena maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan faktor lainnya,” ujar Sofian kepada Humas Kota Bandung.

Selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya.

Menurut Sofian, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi organik, nonorganik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya atau kurang lebih 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri.

“Jadi kita sudah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk pemilahan sampah organik, nonorganik dan residu. Sekitar 500 rumah tangga sudah mendapatkan sosialisasi, dan sekitar 250 rumah tangga sudah mulai memilah dan mengolah,” katanya.

Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter, sementara sejumlah RW memiliki hingga lima unit.

Sofian menyebut fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat mengolah sampah organik secara langsung tanpa harus dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).

“Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah,” ujarnya.

Selain itu, Kelurahan Sukamiskin mengembangkan pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Fasilitas tersebut saat ini didukung enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi briket.

Prosesnya dimulai dengan memasukkan sampah nonorganik ke dalam wadah pengolahan. Sampah kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator. Proses tersebut dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.

Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah kemudian digiling menggunakan mesin. Terdapat tahapan penggilingan kasar, penggilingan halus, hingga pencampuran bahan perekat berupa kanji sebelum dicetak menjadi briket.

“Setelah kering, sampah digiling. Ada mesin penggiling kasar, penggiling halus, kemudian dicampur dengan kanji supaya ketika dicetak bisa menyatu dan tidak mudah pecah,” jelas Sofian.

Apabila seluruh fasilitas berjalan optimal, kapasitas pengolahan sampah nonorganik tersebut diproyeksikan mencapai enam ton per hari.

Kelurahan Sukamiskin juga disiapkan sebagai laboratorium pengelolaan sampah, tempat komunitas, RT, RW, lembaga swadaya masyarakat, maupun daerah lain yang ingin melakukan studi tiru dapat melihat langsung proses pengelolaan sampah.

“Kelurahan ini kita targetkan menjadi laboratorium pengelolaan sampah. Kita sudah menyiapkan tempat di lantai dua dengan kapasitas sekitar 20 orang untuk menerima tamu dan melakukan ekspos,” katanya.

Pengembangan pengolahan briket juga direncanakan diperluas hingga tingkat RW. RW 13, kata Sofian, telah menyatakan kesiapan untuk menjadi lokasi produksi. Lahan sekitar 200 meter persegi telah disiapkan, dengan pembagian untuk mesin produksi, penjemuran, dan penyimpanan.

Rencananya, briket hasil produksi akan dikumpulkan dan diangkut untuk kemudian dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, seperti pabrik semen, pabrik genteng di Majalengka, maupun industri tekstil.

“RW 13 sudah siap. Lokasinya sekitar 200 meter persegi, sebagian untuk mesin dan sebagian untuk penjemuran serta storage,” ujarnya.

Selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mengembangkan kerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui teknologi plasma dingin untuk mengolah sampah nonorganik.

Fasilitas tersebut sebelumnya mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah nonorganik per hari dalam tahap awal pengoperasiannya. Namun, saat ini mesin sedang mengalami kendala dan masih menunggu komponen pengganti yang harus didatangkan dari luar negeri.

Sofian berharap, fasilitas tersebut dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat sehingga kapasitas pengolahan sampah Sukamiskin semakin besar.

Jika seluruh fasilitas pengolahan berjalan, Sukamiskin bahkan berpotensi menerima sampah dari wilayah lain karena kapasitas pengolahannya diproyeksikan melampaui timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat setempat.

Saat ini, timbulan sampah di Sukamiskin diperkirakan mencapai 4 hingga 6 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen masih harus dibawa ke TPS, sedangkan sisanya secara bertahap diarahkan untuk diolah melalui berbagai fasilitas yang tersedia.

Pengelolaan sampah dari sumber juga diperkuat melalui program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Di Sukamiskin terdapat sekitar 17 petugas yang bertugas membantu pengelolaan sampah di masing-masing RW.

Petugas tersebut tidak hanya mengambil sampah dari rumah warga, tetapi juga mendorong proses pemilahan sebelum sampah dibawa ke titik pengolahan.

“Kalau petugas Gaslah sekarang sekitar 17 orang, satu RW satu. Mereka memilah organik. Target dari DLH sekitar 25 kilogram sehari, dan itu sudah terlampaui. Ada yang 60 kilogram bahkan lebih dari 100 kilogram,” kata Sofian.

Di tingkat RT, pengambilan sampah dari rumah warga juga tetap berjalan. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dibawa ke titik Gaslah untuk dipilah. Sampah organik diarahkan ke fasilitas pengolahan seperti komposter maupun maggot, sedangkan sampah nonorganik masuk ke tahap pengolahan berikutnya.

Sampah Jadi Manfaat Sosial

Menariknya, pengelolaan sampah di Sukamiskin tidak berhenti pada pengurangan volume sampah. Sampah organik yang diolah melalui maggot juga menghasilkan kasgot atau bekas media maggot yang dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.

Hasilnya digunakan untuk mendukung kebun pangan di lingkungan kelurahan. Berbagai tanaman seperti bayam, pakcoy, kangkung, hingga ubi ungu dibudidayakan dan dipanen secara berkala.

Ekosistem tersebut juga terintegrasi dengan peternakan ayam petelur. Saat ini, ayam menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur per hari.

Telur tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya ibu hamil, balita, serta warga yang mengalami berat badan kurang.

“Telur yang dihasilkan sekitar 60 sampai 90 butir sehari. Itu dibagikan untuk ibu hamil dan balita, terutama yang kurus atau berat badannya kurang,” tutur Sofian.

Dengan demikian, pengelolaan sampah di Sukamiskin berkembang menjadi sebuah ekosistem yang menghubungkan pemilahan sampah, pengolahan organik, budidaya maggot, produksi kompos, pertanian, hingga pemenuhan pangan dan gizi masyarakat yang tergabung dalam Sirkulir Program Karasa (Sirkuler Bandung Utama).

Sofian mengungkapkan, luas lahan yang tersedia menjadi salah satu keunggulan Kelurahan Sukamiskin dalam mengembangkan ekosistem tersebut. Dari sekitar 3.000 meter persegi lahan yang tersedia, bangunan yang digunakan baru sekitar 800 meter persegi sehingga masih terdapat area yang cukup luas untuk pengembangan.

“Ekosistem ini menjadi kebanggaan Sukamiskin. Alhamdulillah, kita memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan,” katanya.

Ke depan, Sofian berharap seluruh fasilitas pengolahan dapat beroperasi secara optimal. Dengan dukungan pemerintah provinsi dan berbagai pihak, fasilitas pengolahan baru diharapkan mulai berjalan pada akhir tahun ini atau paling lambat awal 2027.

“Kalau peyeumisasi sampah sudah berjalan dan plasma dingin kembali beroperasi, kita bahkan bisa menerima sampah dari kelurahan lain. Secara hitungan, kapasitas pengolahan kita bisa lebih besar dari timbulan sampah warga Sukamiskin,” paparnya. (red)**

Sumber : Diskominfo Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *