Muhammad Guntur Nugroho : Calon Dirut Bertekad Benahi PDAM Kota Bandung
Media Jabar. Net. Bandung – Air adalah kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Tanpa air, makhluk hidup tidak akan bertahan hidup. Kebutuhan manusia akan air tentu saja berbeda dengan makhluk lainnya, manusia membutuhkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari, kesehatan, dan sanitasi,
Dan di tahun 2026 ini, Perumda Tirtawening ini mengadakan seleksi Direktur Utama, menyusul habisnya masa jabatan Dirut utama sebelumnya pada Juli 2025. Tercatat ada 96 kandidat yang mendaftar untuk memperebutkan kursi Direktur Utama Perumda Tirta Wening.
Di antara para kandidat yang lolos tes penyaringan hingga 5 besar adalah Muhammad Guntur Nugroho Sasongko. Kebetulan wartawan belum lama ini berkesempatan ngobrol, ngawangkong di Kantor EGS, Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 43 AB (Jalan Banteng), Kota Bandung.
Ya, lelaki yang akrab disapa Mas Guntur (H. Mas Guntur NuSa) ini memang menjabat Direktur PT EGS Heart Facility Service, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa cleaning service, satpam, driver (supir), staf ahli, purnabakti. Lebih dari 2.000 karyawannya kini tersebar mulai dari Jawa Barat, Jakarta, Banten hingga Bali, bekerja di hotel-hotel, rumah sakit, pabrik, kantor swasta dan pemerintahan termasuk di DPRD provinsi.
Direktur yang juga mantan cleaning service di Jakarta ini pun sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Ia bahkan rutin memberangkatkan karyawannya yang berprestasi pergi umrah. Termasuk tahun ini mengumrahkan 11 karyawannya.
Ayah Saya Satpam PDAM Kota Bandung
Ya, benar, ayah Guntur adalah seorang satpam PDAM (Kepala Satpam, tahun 1995–2005), dan semasa itu alumni SMAN 5 Bandung ini tengah kuliah di Unpad. Jadi biaya kuliah dan kebutuhan lainnya dibiayai dari gaji ayahnya yang bekerja jadi satpam PDAM. Merasa begitu, maka ketika dibuka pendaftaran calon Dirut PDAM, dia langsung ikut, dengan niat mengabdi dan balas budi.
Keduanya, Mas Guntur juga ingin ngabeberes, terutama dengan banyaknya rumor dan isu tentang pelayanan yang belum merata, “Padahal, yang namanya air itu adalah hajat hidup orang banyak dan kebutuhan primer, sifatnya utama. Kalau pengelolaannya kurang baik, maka dampaknya akan negatif kepada masyarakat,” tandasnya.
“Dengan 2,6 juta penduduk Bandung saat ini, sambungan langganan itu baru 170–180 ribu, berarti kurang dari 14%. Padahal usia PDAM sendiri 51 tahun (peninggalan Belanda), tapi baru bisa mencakup melayani hanya 170–180 ribu sambungan, berarti masih banyak yang belum dibenahi. Tentunya perlu penataan infrastruktur, revitalisasi dan rehabilitasi infrastruktur,” sambungnya.
Terus belum lagi tata kelola yang profesional dan akuntabel yang terbuka dan transparan, profesionalitas. Mestinya ISO 9001:2015 tentang sistem manajemen mutu bisa konsisten diterapkan.
Belum lagi ISO Manajemen Anti Penyuapan 37001, “Nah itu kalau diterapkan mestinya PDAM ini bisa jauh lebih baik lagi melayani,” paparnya.
Selain itu kata Mas Guntur, secara sosial ekonomi kemasyarakatan, bisa jadi penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang besar bagi kesejahteraan masyarakat Bandung.
Jadi menurutnya, yang perlu ditata, pertama-tama transparansi, akuntabilitas, digitalisasi, bagaimana masyarakat Bandung bisa terlayani dengan baik, segala keluhan cepat tertangani, 24 jam air mengalir, dan yang terpenting juga kualitas airnya sesuai standar WHO dan standar internasional. Juga non-revenue water (air bersih yang sudah diproduksi tidak menghasilkan pendapatan bagi perusahaan air/PDAM) bisa diminimalisir. Sehingga bisa menjadi standar nasional menjadi kurang dari 20%, sekarang masih besar NRW-nya.
Kualitas air idealnya harus standar WHO, bisa drinkable tap water (air keran yang bisa langsung diminum), kalau standarnya sudah benar tidak perlu dimasak. Selain itu kata Mas Guntur, kita juga harus memikirkan tentang pembangunan berkelanjutan, “Ngamumule cai teh berarti, sumber air bakunya, wilayahnya harus bisa ditata. Berarti sumber mata airnya, resapannya, air sungainya harus terintegrasi. Dengan alamnya harus terintegrasi, maka air ini akan menjadi sumber berkah kalau dikelola secara benar. Tapi kalau dikelola kurang benar akan jadi musibah, besok lusa banjir. Jadi perlu penanganan secara holistik dan integrasi. Bukan hanya PDAM saja, tapi warga Bandung termasuk dinas-dinas terkait juga harus sama-sama bisa menjaga kelestarian alam sebagai sumber daya air,” kata Mas Guntur.
Tentu saja dalam pemilihan Dirut PDAM Kota Bandung ini Mas Guntur berharap objektif, dan baginya siapa pun yang terpilih adalah yang terbaik bagi PDAM. Khususnya yang punya visi dan misi melayani masyarakat, kesejahteraan masyarakat Bandung. Karena yang namanya air ini bisa jadi hal primer yang bakal lebih mahal dari emas.
Apalagi kalau mengingat dampak geopolitik perang Iran–Israel, air ini sangat dibutuhkan sekali, dan kalau tidak ditata dari sekarang, visi 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Sustainability Development Goals itu tidak akan tercapai. Sedangkan targetnya 2030 itu masyarakat Bandung terlayani dengan air secara merata dan berkualitas. Termasuk sanitasi dan limbahnya.
Dan, “Kalau nanti saya terpilih menjadi Direktur Utama PDAM Kota Bandung tentunya menjadi amanat yang bisa menjadi jalan keberkahan buat seluruh masyarakat, utamanya masyarakat Bandung,” pungkasnya.
Sementara tulisan ini diturunkan, para pelanggan air PDAM Kota Bandung yang ada di Baladewa, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, sudah lebih dari seminggu krisis air, air PDAM tidak mengalir. Kata beberapa warga setelah mereka lapor ke pengaduan, konon katanya ada sumbatan pada pipa di daerah Garunggang dan belum tertangani secara optimal.
Sumber : Tatar Jabar. (Red)***
