Jachja TD: SLOGANISME ANTIKORUPSI DAN KAMUFLASENYA KORUPTOR

Bagikan berita:

Media Jabar.Net.Bandung – Di tengah bangsa dan negara berusaha mencegah pandemi Covid-19 dan merosotnya perekonomian rakyat, kita dikagetkan dengan tertangkapnya empat penyelenggara Negara oleh KPK yang selama kepemimpinan Firly Bahuri dianggap “mati suri”, bahkan bagi sebagian pegiat antikorupsi mengalami degradasi kepercayaan dalam memberantas tindakan korupsi.

Namun publik di kagetkan dengan tertangkap nya, Menteri KKP, Edhy Prabowo, Walikota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna, Bupati Banggai Laut, Wenny Bukarno, dan Menteri Sosial, Juhari Peter Batubara.
Terbongkarnya tindakan korupsi mereka, khususnya, Menteri Sosial, sangat berkaitan erat dengan bantuan sosial, yaitu pemotongan anggaran belanja pengadaan paket sembako sekitar Rp 17 milyar. Sementara Menteri KKP, dan Walikota Cimahi, kasus perijinan serta Bupati Banggai Laut, kasus suap dalam rangka pilkada.

Tindakan korupsi mereka dapat dikatakan sikap kamuflase yang sengaja dihembuskan melalui tatap muka resmi/tidak resmi atau tulisan di media sosial, spanduk, baligo, dll. Seperti Twitternya Edhy Prabowo, “Korupsi adalah musuh utama yang harus kita perangi. Bersama-sama membangun komitmen KKP menjadi birokrat yang bersih dan melayani untuk mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera.”

Dalam rangka menyambut Hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember yang lalu, Menteri Sosial mengangkat tema, “Membangun Kesadaran Seluruh Elemen Bangsa dalam Budaya Antikorupsi. Kemensos RI Hadir Tanpa Korupsi Wujudkan Indonesia Sejahtera.”

Secara selintas, banyak pemimpin, baik di kementerian, pemerintah daerah, maupun di tingkat SKPD dan seterusnya adalah orang-orang yang baik dalam pengabdiannya ke negara. Mereka di muka umum merupakan figur tauladan. Sebaliknya, kita umumnya tidak mengetahui karakter yang sebenarnya. Berkepribadian gandakah atau memang karakter orang yang berkuasa, meskipun tampak seperti orang beragama yang taat dan selalu menyuarakan kebajikan?
Sloganisme kebajikan harus diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari sebagai pemimpin dan masyarakat, bila hanya kamuflase akan menjadi senjata makan tuan dan sampah duniawi. Selain tentu saja, korupsi bukanlah rejeki dari Allah, tapi tindakan korupsi merupakan kegagalan hidup menjalankan perintah Allah.
Salam Antikorupsi.

PenulisĀ  : Jachja.TD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *