Media Jabar.Net.Bandung – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat lebih tepatnya lagi Sekretariat Satgas Citarum Harum mengadakan  rapat pemantapan Koordinasi antar komando sektor dan sekretariat satgas Citarum Harum bertempat di gedung Kantor Peternakan Provinsi Jawa Barat Lt.4  Jl. Ir H. Juanda (Dago) Bandung, 3/8/2019.
Rapat Koodinasi dipimpin Ketua pelaksana harian Citarum Harum (Mayjen. TNI (Purn) Dedi Kusnadi Thamim) bersama Sekretaris DLH prov jabar Dr. Ir. Prima Mayangningtias, Msi. didampingi Asterdam III/Skw. (Kol. CBH. G. Hasto) dan para Dansektor semua memaparkan kegiatan dan perkembangan pada penanganan pelaksanaan program Citarum Harum masih banyak kendala baik prasarana maupun kebutuhan yang diperlukan masyarakat yang terjun kelokasi pada pelaksanaan  penanganan program citarum harum sesuai Perpres no. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum guna mewujudkan Citarum Harum.
Seusai laporan para Dansektor citarum harum dilanjut dengan diskusi Penyempurnaan penanganan program dibutuhkan data lapangan yang akurat harus bersinergi dengan Dinas Pemerintahan terkait termasuk Bupati /Walikota yang tersentuh program Citarum Harum, supaya masalah yang di tangani para satgas citarum harum bisa sesuai dengan kenyataan, sehingga pendanaannya akan jelas dan terkoordinir sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Perlunya dorongan Gubernur agar Bupati atau Kabupaten dan Kota tergiring membuat joran, jadi bukan akses saja yang dibangun oleh para Dansektor, tapi Walikota, Bupati juga perlu menjabarkan Pilpres 15, tentunya akan meresap ke bawahnya yaitu, dinas, Kecamatan Kelurahan ada atensi berupa regulasi yang harus dilakukan oleh masing-masing dinas dan Kecamatan serta Kelurahan.
Media Jabar.Net.Bandung – Kol. Inf. A. Rahman Taufik pada rakor satgas citarum harum

Sektor 22 sudah berhasil untuk membangun kolaborasi dan integrasi ini, diataranya Dinas Lingkungan Hidup, DPKP3 dan dari 13 lembaga sejenis terkait, supaya tidak terjadi kecurangan Suatu Contoh, ada suatu pabrik yang bergerak dibidang pencelupan sebagai pemilik dan pegawai masih ada yang bermain dalam penanganan buang air limbahnya,

 Dansektor 22 (Kolonel Inf. Asep Rahman Taufiq) memaparkan kendala dan solusi yang terjadi di wilayah sektor 22,

Tentang geografis  kotoran hewan (kohe) di Kecamatan Lembang (KBB) bila dibandingkan dengan wilayah selatan maka sangat banyak di Lembang.

 Yang dilakukan oleh pemerintah setempat utamanya KPSBU dan komunitas, baru mencapai kurang lebih 35% melalui pengomposan tradisional, peternakan cacing dan masyarakat sudah diberikan pinjaman cicilan dari KPSBU sebanyak 1.036 biogas secara perorangan, munculah permasalahan baru di masyarakat dihadapkan dengan tugas sehari-harinya untuk mengurus biogas, namun tenaga sudah keteteran akhirnya banyak biogas yang mangkrak tidak digunakan
Saran Dansektor 22, perlu adanya kebijakan baik pada tingkat provinsi maupun pada level APBN, apalagi Septicktank komunal untuk menampung tinja di tiap-tiap RW atau di tiap tiap rens populasi hewan itu sendiri jadi pengelolaanya dikelola secara profesional, jangan dibebankan lagi kepada masyarakat karena manajemen operasional manajemen sumber daya manusianya tetap masyarakat bisa terganggu lagi, harusnya profesional yaitu sumber daya manusia yang dibayar sehari-harinya untuk mengelola komunal tersebut
Karena populasi yang 22400 itu ada di 9 Desa, saya sudah memaparkan secara fisik ke pak gubernur waktu kegiatan gerakan bersih-bersih di Lembang, kesempatan itu pun saya paparkan kepada bupati dan walikota namun sampai sekarang belum ada reaksi apapun, maka 9 titik itu tetap masih mengalir ke Sungai Cibeureum danCikapundung
Saya prihatin lihat cikapundung, bukan prihatin di kota Bandung nya, karena saya sudah pernah jebur di cikapundung memang betapa kotornya, kita berbicara di Kota Bandung kalau berbicara di hulunya baru 400 m aliran cikapundung itu sudah hijau warnanya, jangan kita bicara di Kota Bandung saja di Lembang pun sudah seperti itu kondisinya.
Tentunya penyumbang ecoli yang sangat besar, kalau dikalkulasikan 224.002 ekir sapi dikalikan 10 kilo per ekor berarti kita menerima sumbangan ecoli dari sumber 124 ton sehari, 770 ton perhari Kohe yang baru dikelola KBB,  sisanya yang mencemari Sungai Cikapundung dan Cibeureum, yang dilakukan oleh sektor 22 masih fokus di pengomposan hanya baru di dua titik di dua desa.   (Asep.M/JPCH)

Check Also

Khaidir Ketua MPAI Kalsel Sosialisasi Kebakaran Hutan Punya Nilai Manpaat Di Masyarakat

Media Jabar.Net.Kalsel – Rabu ( 23 /6/2021) Bertempat di Desa Pantai Linuh Kecamatan…